Senin, 24 September 2012

BERTEMAN MAUT


Aku shock, pandanganku seketika berubah gelap, tubuhku bagai kapas yang terombang-ambing tertiup angin. Dunia bagai runtuh, hujan deras seketika turun dari sudut mataku. Ingin rasanya aku berlari sejauh mungkin untuk bisa meninggalkan dunia ini. Aku tak sanggup menjalani hidupku selanjutnya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hidupku kedepan. Aku tak sanggup menanggung dosa yang di buat kedua orang tuaku.
Mamaku kaget ketika melihatku duduk di sudut ruang tamu dengan selembar kertas kucel ditanganku sambil terisak. “ini semua karena mama dan papa, kalian jahat!!” aku menyalahkan mama yang hanya bisa bingung melihatku. “sayang… kamu kenapa??? Apa yang terjadi???” dengan nada panik mama mendekatiku. “jangan sentuh aku!! Aku benci kalian. Kalian telah menghancurkan masa depanku. Aarrrggghhhh….. aku benci kalian.” Aku semakin histeris dan melempar secarik kertas yang sedari tadi ku genggam dengan erat. “Tuh lihat!!! Huhuhuhuuhu….”
Mama berjalan mendekati kertas yang ku lempar. Perlahan ia menggapai kertas itu lalu sejenak membacanya. Air matanya seketika membasahi wajahn cantiknya. Ia terduduk seketika, sepertinya kakinya tidak dapat menopang badannya lagi. “maafkan mama sayang!!! Ini semua memang salah mama.. maafkan mama” mamaku tak bisa membendung derasnya air mata yang tumpah dari matanya. Ia mulai mendekatiku, berusaha untuk memelukku namun aku menghindar. “jangan sentuh aku!!! Aku ndak sudi di sentuh wanita yang telah membuat masa depanku hancur.” Aku berlari menuju kamar meninggalkan mamaku yang masih menagis.
aku rebahkan badan di atas tempat tidur. Diluar hujan deras seakan ikut menangis bersamaku. Air mataku tak terasa kembali membasahi pipiku saat aku membayangkan jika teman-temanku tahu apa yang ku alami, pasti tak ada seorangpun yang mau berteman denganku. Aku kembali terisak, rasanya tak sanggup membayangkan semua ini.
Sejak kejadian itu, aku mengurung diri di kamar, tak pernah ke kampus. Setiap hari dengan suara lembutnya mama dengan setia mengetuk pintu kamarku. “Maya… maafkan mama sayang!! Pleaseee… jangan siksa mama begini! Mama tau ini berat buat kamu tapi mama yakin maya pasti bisa hadapi semuanya. Maya kan anak mama yang kuat.” Suara mama terdengar makin serak. “Maya… nih mama buatin nasi goreng sea food kesukaan Maya.. buka pintunya dong sayang!!! Udah dua hari kamu ndak keluar, ndak makan, entar kamu sakit sayang.” “apa peduli mama??? bukannya itu yang mama mau??.” “sayang… maafkan mama!!! memang mama bukan mama yang baik buat Maya.” Langkah kaki mama terdengar semakin samar. Mama menyerah membujukku.
Hari-hari ku lalui dengan meratapi penyakit biadab itu. hingga suatu malam, saat ku mengadu kepada Sang Pemberi Petunjuk, aku seperti mendapat ilham. Sepertinya Allah memutar kembali semua kasih sayang yang telah mama berikan kepadaku. Sebagai single parent ia telah membanting tulang untuk bisa membahagiakanku. Aku tidak bisa menyalahkannya sebab iapun tertular penyakit biadab itu dari bajingan yang tidak bertanggung jawab. Ia telah menularkan virus biadab itu ke dalam tubuh mama yang tak tahu apa-apa hingga akhirnya akupun mendapat imbasnya.
Laki-laki itu adalah laki-laki biadab yang mengumbar cinta kepada mama yang polos. Setelah mama luluh ia menularkan virus biadab itu kepada mama lalu pergi entah kemana meninggalkan mama bersama aku yang masih berada di kandungan.
Keesokan harinya aku bergegas ke kamar mama. aku mendekati mama yang masih terlelap di tempat tidurnya. Aku melihat keteduhan di wajahnya. Air mataku tiba-tiba jatuh kembali. Aku memeluknya sambil menangis. “mama… maafin Maya. Selama ini maya udah buat mama sedih. Maafin Maya ma!!!.” Mama membalas pelukanku, kami berdua tenggelam dalam lautan air mata. “mama juga minta maaf sayang!!! Semua ini karena mama, kamupun harus menanggung akibatnya.”
Mulai saat itu. aku dan mama tidak pernah lagi menyalahkan siapapun atas virus yang telah hidup di tubuh kami. Kami berdua berjanji untuk selalu ikhlas menerima semua yang Allah berikan kepada kami. “mungkin virus ini membuat kita makin dekat kepada Allah” mama membuka suara saat kami berdua sedang tiduran di hamparan rumput sambil menikmati bintang yang bertaburan di awan. “iya mah…. Allah punya rencana yang indah atas semua ini.” Kami berdua saling berpelukan sambil menikmati indahnya malam bersama bintang-bintang di atas sana.
Malam itu aku berjanji kepada mama, bahwa aku akan menjadi anak mama yang bisa di banggakan walau dengan virus HIV di tubuhku tapi itu tidak akan menjadi halangan untukku mengejar cita-citaku namun itu menjadi pemacu untuk menggapai impianku sebelum virus itu membawaku menghadap sang Khaliq.
Cita-citaku satu persatu mulai menjadi kenyataan. Setelah empat tahun kuliah akhirnya aku mendapat gelar sarjana kedokteran di salah satu universitas ternama. Namun kebahagiaanku tak bisa ku nikmati. Orang yang ku sayang pergi meninggalkanku sehari sebelum aku memakai toga. Mama yang aku sayang, mama yang menjadi penyemangat ku, mama yang menjadi teman hidupku kini harus pergi meninggalkanku.
Mama tidak bisa melihat hari paling bahagia di hidupku. Mama tidak bisa lihat aku pake toga. Saat yang paling aku tunggu-tunggu sepanjang hidupku. Aku berharap mama bisa lihat dari atas sana.
“Ma… Maya udah jadi sarjana kedokteran seperti yang mama mau. Selangkah lagi maya bakal jadi dokter. Ma… Maya janji.. kalau Maya udah jadi dokter, Maya bakal cari obat buat virus HIV. Maya bakal bantu orang-orang kayak kita ma… mama doain Maya terus ya ma… Maya sayang mama.” aku duduk besimpuh di samping nisan mama yang masih basah dengan toga yang masih lengket di tubuhku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar