Aku
shock, pandanganku seketika berubah gelap, tubuhku bagai kapas yang
terombang-ambing tertiup angin. Dunia bagai runtuh, hujan deras seketika turun
dari sudut mataku. Ingin rasanya aku berlari sejauh mungkin untuk bisa
meninggalkan dunia ini. Aku tak sanggup menjalani hidupku selanjutnya. Aku tak
bisa membayangkan bagaimana hidupku kedepan. Aku tak sanggup menanggung dosa
yang di buat kedua orang tuaku.
Mamaku
kaget ketika melihatku duduk di sudut ruang tamu dengan selembar kertas kucel
ditanganku sambil terisak. “ini semua karena mama dan papa, kalian jahat!!” aku
menyalahkan mama yang hanya bisa bingung melihatku. “sayang… kamu kenapa??? Apa
yang terjadi???” dengan nada panik mama mendekatiku. “jangan sentuh aku!! Aku
benci kalian. Kalian telah menghancurkan masa depanku. Aarrrggghhhh….. aku
benci kalian.” Aku semakin histeris dan melempar secarik kertas yang sedari
tadi ku genggam dengan erat. “Tuh lihat!!! Huhuhuhuuhu….”
Mama
berjalan mendekati kertas yang ku lempar. Perlahan ia menggapai kertas itu lalu
sejenak membacanya. Air matanya seketika membasahi wajahn cantiknya. Ia
terduduk seketika, sepertinya kakinya tidak dapat menopang badannya lagi.
“maafkan mama sayang!!! Ini semua memang salah mama.. maafkan mama” mamaku tak
bisa membendung derasnya air mata yang tumpah dari matanya. Ia mulai
mendekatiku, berusaha untuk memelukku namun aku menghindar. “jangan sentuh
aku!!! Aku ndak sudi di sentuh wanita yang telah membuat masa depanku hancur.”
Aku berlari menuju kamar meninggalkan mamaku yang masih menagis.
aku
rebahkan badan di atas tempat tidur. Diluar hujan deras seakan ikut menangis
bersamaku. Air mataku tak terasa kembali membasahi pipiku saat aku membayangkan
jika teman-temanku tahu apa yang ku alami, pasti tak ada seorangpun yang mau
berteman denganku. Aku kembali terisak, rasanya tak sanggup membayangkan semua
ini.
Sejak
kejadian itu, aku mengurung diri di kamar, tak pernah ke kampus. Setiap hari
dengan suara lembutnya mama dengan setia mengetuk pintu kamarku. “Maya… maafkan
mama sayang!! Pleaseee… jangan siksa mama begini! Mama tau ini berat buat kamu
tapi mama yakin maya pasti bisa hadapi semuanya. Maya kan anak mama yang kuat.”
Suara mama terdengar makin serak. “Maya… nih mama buatin nasi goreng sea food
kesukaan Maya.. buka pintunya dong sayang!!! Udah dua hari kamu ndak keluar,
ndak makan, entar kamu sakit sayang.” “apa peduli mama??? bukannya itu yang
mama mau??.” “sayang… maafkan mama!!! memang mama bukan mama yang baik buat Maya.”
Langkah kaki mama terdengar semakin samar. Mama menyerah membujukku.
Hari-hari
ku lalui dengan meratapi penyakit biadab itu. hingga suatu malam, saat ku
mengadu kepada Sang Pemberi Petunjuk, aku seperti mendapat ilham. Sepertinya
Allah memutar kembali semua kasih sayang yang telah mama berikan kepadaku.
Sebagai single parent ia telah membanting tulang untuk bisa membahagiakanku.
Aku tidak bisa menyalahkannya sebab iapun tertular penyakit biadab itu dari
bajingan yang tidak bertanggung jawab. Ia telah menularkan virus biadab itu ke
dalam tubuh mama yang tak tahu apa-apa hingga akhirnya akupun mendapat
imbasnya.
Laki-laki
itu adalah laki-laki biadab yang mengumbar cinta kepada mama yang polos.
Setelah mama luluh ia menularkan virus biadab itu kepada mama lalu pergi entah
kemana meninggalkan mama bersama aku yang masih berada di kandungan.
Keesokan
harinya aku bergegas ke kamar mama. aku mendekati mama yang masih terlelap di
tempat tidurnya. Aku melihat keteduhan di wajahnya. Air mataku tiba-tiba jatuh
kembali. Aku memeluknya sambil menangis. “mama… maafin Maya. Selama ini maya
udah buat mama sedih. Maafin Maya ma!!!.” Mama membalas pelukanku, kami berdua
tenggelam dalam lautan air mata. “mama juga minta maaf sayang!!! Semua ini
karena mama, kamupun harus menanggung akibatnya.”
Mulai
saat itu. aku dan mama tidak pernah lagi menyalahkan siapapun atas virus yang
telah hidup di tubuh kami. Kami berdua berjanji untuk selalu ikhlas menerima
semua yang Allah berikan kepada kami. “mungkin virus ini membuat kita makin
dekat kepada Allah” mama membuka suara saat kami berdua sedang tiduran di
hamparan rumput sambil menikmati bintang yang bertaburan di awan. “iya mah….
Allah punya rencana yang indah atas semua ini.” Kami berdua saling berpelukan
sambil menikmati indahnya malam bersama bintang-bintang di atas sana.
Malam
itu aku berjanji kepada mama, bahwa aku akan menjadi anak mama yang bisa di
banggakan walau dengan virus HIV di tubuhku tapi itu tidak akan menjadi
halangan untukku mengejar cita-citaku namun itu menjadi pemacu untuk menggapai
impianku sebelum virus itu membawaku menghadap sang Khaliq.
Cita-citaku
satu persatu mulai menjadi kenyataan. Setelah empat tahun kuliah akhirnya aku
mendapat gelar sarjana kedokteran di salah satu universitas ternama. Namun
kebahagiaanku tak bisa ku nikmati. Orang yang ku sayang pergi meninggalkanku
sehari sebelum aku memakai toga. Mama yang aku sayang, mama yang menjadi penyemangat
ku, mama yang menjadi teman hidupku kini harus pergi meninggalkanku.
Mama
tidak bisa melihat hari paling bahagia di hidupku. Mama tidak bisa lihat aku
pake toga. Saat yang paling aku tunggu-tunggu sepanjang hidupku. Aku berharap
mama bisa lihat dari atas sana.
“Ma…
Maya udah jadi sarjana kedokteran seperti yang mama mau. Selangkah lagi maya
bakal jadi dokter. Ma… Maya janji.. kalau Maya udah jadi dokter, Maya bakal
cari obat buat virus HIV. Maya bakal bantu orang-orang kayak kita ma… mama
doain Maya terus ya ma… Maya sayang mama.” aku duduk besimpuh di samping nisan
mama yang masih basah dengan toga yang masih lengket di tubuhku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar