Selasa, 22 Mei 2012

Goresan Penaku Teman setiaku


Di sudut kamar, aku duduk berteman kertas dan bolpoin. Dua benda inilah yang selalu setia menemaniku, mendengarkan semua keluh kesahku tanpa pernah protes. Mereka adalah teman yang sangat bisa pegang rahasia, mereka tidak akan pernah membocorkan rahasiaku kepada siapapun.
Maya, itulah namaku. Aku terlahir sebagai anak tunggal. Sejak kecil aku divonis dokter mengidap penyakit jantung bawaan, sehingga setiap tahun aku harus rutin memeriksakan jantungku ke dokter dan selama bertahun-tahun itupun aku harus mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter. mungkin karena alasan itu aku mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari mama dam papaku. Apapun yang aku inginkan selalu tersaji di hadapanku. Sekalipun aku tidak pernah dibiarkan menangis, karena apabila aku menangis maka sekujur tubuhku akan membiru seketika.
Namun, hidup dalam limpahan kasih sayang dari kedua orang tuaku tidak membuatku bahagia. Kadang aku iri melihat teman-temanku yang dengan bebasnya bisa bermain sesuka hatinya, sedangkan aku hanya bisa bermain  dengan boneka-bonekaku di kamar. Itu adalah rutinitasku sehari-hari saat aku pulang sekolah. Sampai pada saat umur 14 tahun aku dinyatakan sembuh. Haaahhh.... serasa aku lepas dari beban berton-ton yang selalu mengikutiku selama ini. Kebahagiaanku tak bisa dilukiskan. Mama dan papaku langsung membuat acara syukuran atas kesembuhanku. Kami bertiga merayakannya bersama keluarga besar mama dan papaku di rumah sederhana kami.
14 tahun yang ku jalani ternyata banyak memberi efek terhadap interaksi sosialku. Aku cenderung pendiam dan susah bergaul. Aku lebih banyak diam. Saat teman-teman sekolahku tertawa dan bercanda ria aku hanya duduk ditemani kertas dan bolpoinku. Entah apa yang aku tulis aku sendiri bingung. Sampai-sampai teman-temanku sering teriak “may, ayo gabung!!! Jangan sendirian aja, nanti di temani pocong loch” aku hanya membalas ajakan mereka dengan senyuman. Entah mengapa rasanya kakiku ndak bisa melangkah menuju mereka padahal hati kecilku pengen gabung bercerita dan tertawa bersama mereka.
Seiring berjalannya waktu, sifat individualis ku tidak juga berubah. Malah semakin bertambah ketika papaku pergi menghadap sang khalik. Aku merasa Tuhan tidak adil, kenapa Ia memanggil papaku begitu cepat??? Sampai untuk melihatku memakai seragam SMA pun tidak sempat.
Hari-hari tanpa papa adalah hari-hari terberat buat aku dan mama. aku yang dulu selalu diantar jemput oleh papa kini harus berangkat sekolah sendiri. Tak ada lagi kecupan hangat di keningku sebelum aku masuk gerbang sekolah. Semua beban itu membuatku makin terpuruk dalam kesendirian dan sekali lagi hanya kertas dan bolpoin yang setia menemaniku. Semenjak itu, banyak puisi-puisi tentang papa yang tercipta dari goresan tintaku. Aku hanya berteman dengan kertas dan bolpoin tiap hariku. Entah berapa banyak puisi yang aku tulis. Semua keluh kesahku aku tuangkan dalam puisi, hanya itu yang bisa mengobati rinduku kepada papa dan membuat jiwaku tenang. Setiap ada permasalahan aku selalu bercerita kepada kertas melalui tulisan. Dia ndak pernah protes. Dia setia mendengar semua curahan hatiku. Dia selalu ada kapanpun aku butuh. Dia lebih dari siapapun, bahkan sahabat sekalipun.
 So… tidak perlu cari orang buat di jadikan sahabat, karna sebenarnya teman setia itu ada di hadapanmu. Yaitu kertas putih yang siap di gores oleh cerita-cerita kita.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar