Di
sudut kamar, aku duduk berteman kertas dan bolpoin. Dua benda inilah yang
selalu setia menemaniku, mendengarkan semua keluh kesahku tanpa pernah protes.
Mereka adalah teman yang sangat bisa pegang rahasia, mereka tidak akan pernah
membocorkan rahasiaku kepada siapapun.
Maya,
itulah namaku. Aku terlahir sebagai anak tunggal. Sejak kecil aku divonis
dokter mengidap penyakit jantung bawaan, sehingga setiap tahun aku harus rutin
memeriksakan jantungku ke dokter dan selama bertahun-tahun itupun aku harus
mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter. mungkin karena alasan itu aku
mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari mama dam papaku. Apapun yang aku
inginkan selalu tersaji di hadapanku. Sekalipun aku tidak pernah dibiarkan
menangis, karena apabila aku menangis maka sekujur tubuhku akan membiru
seketika.
Namun,
hidup dalam limpahan kasih sayang dari kedua orang tuaku tidak membuatku
bahagia. Kadang aku iri melihat teman-temanku yang dengan bebasnya bisa bermain
sesuka hatinya, sedangkan aku hanya bisa bermain dengan boneka-bonekaku di kamar. Itu adalah
rutinitasku sehari-hari saat aku pulang sekolah. Sampai pada saat umur 14 tahun
aku dinyatakan sembuh. Haaahhh.... serasa aku lepas dari beban berton-ton yang
selalu mengikutiku selama ini. Kebahagiaanku tak bisa dilukiskan. Mama dan
papaku langsung membuat acara syukuran atas kesembuhanku. Kami bertiga
merayakannya bersama keluarga besar mama dan papaku di rumah sederhana kami.
14
tahun yang ku jalani ternyata banyak memberi efek terhadap interaksi sosialku.
Aku cenderung pendiam dan susah bergaul. Aku lebih banyak diam. Saat teman-teman
sekolahku tertawa dan bercanda ria aku hanya duduk ditemani kertas dan
bolpoinku. Entah apa yang aku tulis aku sendiri bingung. Sampai-sampai
teman-temanku sering teriak “may, ayo gabung!!! Jangan sendirian aja, nanti di
temani pocong loch” aku hanya membalas ajakan mereka dengan senyuman. Entah
mengapa rasanya kakiku ndak bisa melangkah menuju mereka padahal hati kecilku
pengen gabung bercerita dan tertawa bersama mereka.
Seiring
berjalannya waktu, sifat individualis ku tidak juga berubah. Malah semakin
bertambah ketika papaku pergi menghadap sang khalik. Aku merasa Tuhan tidak
adil, kenapa Ia memanggil papaku begitu cepat??? Sampai untuk melihatku memakai
seragam SMA pun tidak sempat.
Hari-hari
tanpa papa adalah hari-hari terberat buat aku dan mama. aku yang dulu selalu
diantar jemput oleh papa kini harus berangkat sekolah sendiri. Tak ada lagi
kecupan hangat di keningku sebelum aku masuk gerbang sekolah. Semua beban itu
membuatku makin terpuruk dalam kesendirian dan sekali lagi hanya kertas dan
bolpoin yang setia menemaniku. Semenjak itu, banyak puisi-puisi tentang papa
yang tercipta dari goresan tintaku. Aku hanya berteman dengan kertas dan
bolpoin tiap hariku. Entah berapa banyak puisi yang aku tulis. Semua keluh
kesahku aku tuangkan dalam puisi, hanya itu yang bisa mengobati rinduku kepada
papa dan membuat jiwaku tenang. Setiap ada permasalahan aku selalu bercerita
kepada kertas melalui tulisan. Dia ndak pernah protes. Dia setia mendengar
semua curahan hatiku. Dia selalu ada kapanpun aku butuh. Dia lebih dari
siapapun, bahkan sahabat sekalipun.
So… tidak perlu cari orang buat di jadikan
sahabat, karna sebenarnya teman setia itu ada di hadapanmu. Yaitu kertas putih
yang siap di gores oleh cerita-cerita kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar